Pengertian,Dasar Metode, Asas-asas,Macam-macam metode dalam Pendidikan Islam





BAB I
PENDAHULUAN

A, Latar Belakang
Pendidikan islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan pendidikannya kearah tujuan pendidikan islam yang dicita-citakan yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Bagaimanapun baik dan sempurnanya suatu kurikulum pendidikan islam, ia tidk akan berarti apa-apa, manakala tidak memiliki metode atau cara yang tepat dalam mentransformasikannya kepada peserta didik. Ketidak tepatan dalam penerapan metode secara praktis akan menghambat proses belajar mengajar yang akan berakibat membuang waktu dan tenaga secara percuma.
Karenanya, metode adalah syarat untuk efisiensinya aktivitas kependidikan islam. Hal ini berarti bahwa metode termasuk persoalan yang esensial, karena tujuan pendidikan islam itu akan tercapai secara tepat guna manakala jalan yang ditempuh menuju cita-cita tersebut benar-benar tepat. Materi yang benar dan baik, tanpa menggunakan metode yang baik maka akan menjadikan keburukan materi tersebut. Kebaikan materi harus ditopang oleh kebaikan metode juga.




                  B.      Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian metode?
2.      Bagaimana pendekatan metode pendidikan Islam?
3.      Apa yang menjadi dasar metode pendidikan Islam?
4.      Bagaimana asas-asas metode pendidikan Islam?
5.      Apa saja yang menjadi macam-macam metode dalam pendidikan Islam?

                  C.    Tujuan
1.      Untuk menetahui pengertian metode.
2.      Untuk mengetahui pendekatan metode pendidikan Islam.
3.      Untuk mengetahui dasar metode pendidikan Islam.
4.      Untuk mengetahui asas-asas metode pendidikan Islam.
5.      Untuk mengetahui macam-macam metode dalam pendidikan Islam.



BAB II
PEMBAHASAN

A.                PENGERTIAN METODE
Metode atau metoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu metha dan hodos. Metha berarti melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab, dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran yang mudah, efektif dan dapat dicerna dengan baik.
Mengajar berarti menyajikan atau menyampaikan pelajaran. Jadi, metode mengajar berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pengajaran agar tercapai tujuan pengajaran. Metode mengajar juga diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam membelajarkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.
Definisi  metode mengajar menurut beberapa ahli:
1.                  Hasan Langgulung mengemukakan bahwa metode mengajar adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pengajaran.
2.                  Abd Ar-Rahman Ghunaimah mendefinisikan metode mengajar dengan cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran.
3.                  Al-Abrasyi mengemukakan pengertian metode mengajar sebagai jalan yang diikuti untuk memberikan pengertian kepada murid-murid tentang segala macam materi dalam berbagai pelajaran (Al-Basyri, tt.: 275).
4.                  Ahmad Tafsir, mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara yang paling tepat dan cepat dalam mengajarkan mata pelajaran.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah seperangkat cara dan jalan yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabi mata pelajaran. (Ramayulis, 2002: 272)
Metode pendidikan Islam adalah cara-cara yang dipergunakan dalam mengembangkan  potensi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Karena pengajaran adalah bagian dari pendidikan Islam, maka metode mengajar itu termasuk metode pendidikan. Itu berarti bahwa masih ada metode-metode lain yang dapat digunakan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik. (Bukhari Umar, 2011: 181)
Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat itu mempunyai fungsi ganda, yaitu bersifat polipragmatis dan monopragmatis. Polipragmatis bilamana metode mengandung kegunaan yang serba ganda (multipropose), misalnya suatu metode tertentu dapat digunakan untuk membangun atau memperbaiki sesuatu. Kegunaannya dapat tergantung pada si pemakai atau pada corak, bentuk, dan kemampuan menggunakan metode sebagai alat, sebaliknya monopragmatis bilamana metode mengandung satu macam kegunaan untuk satu macam tujuan. (Ramayulis, 2002: 272)

B.                 PENDEKATAN METODE PENDIDIKAN ISLAM
Perwujudan strategi dalam pendidikan Islam dapat dikonfigurasikan dalam bentuk metode pendidikan yang lebih luasnya mencakup pendekatan (approach). Untuk pendekatan pendidikan Islam, dapat berpijak pada firman Allah swt. sebagai berikut.

Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah (2): 151)

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran (3): 104)

Dari kedua firman Allah tersebut, Jalaluddin Rahmat dan Zainal Abidin dalam Buku Bukhari Umar (2011: 183-189) merumuskan pendekatan pendidikan Islam dalam enam kategori.
                           
             1.  Pendekatan Tilawah (Pengajaran)
Pendekatan tilawah ini meliputi membacakan ayat-ayat Allah yang bertujuan memendang fenomena alam sebagai ayat-Nya, mempunyai keyakinan bahwa semua ciptaan Allah memiliki keteraturan yang bersumber dari Rabb Al-‘Alamin, serta memandang bahwa segala yang ada tidak diciptakan-Nya secara sia-sia belaka. Bentuk tilawah mempunyai indikasi tafakkur (berpikir) dan tadzakkur (berdzikir), sedangkan aplikasinya adalah pembentukan kelompok ilmiah, bimbingan ahli, kompetensi ilmiah dengan landasan akhlak Islam, dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya, mislanya penelitian, pengkajian, seminar, dan sebagainya.

2.   Pendekatan Tazkiyah (Penyucian)
            Pendekatan ini diartikan dengan menyucikan dirinya dengan cara amar ma’ruf nahi mungkar (tindakan proaktif dan tindakan reaktif), pendekatan ini bertujuan untuk menjaga kebersihan dirinya dari lingkungannya, memelihara dan mengembangkan akhlak yang baik, menolak dan menjauhi akhlak tercela, berperan sera dalam memelihara kesucian lingkungannya. Jelas indikator pendekatan ini fisik, psikis dan sosial. Aplikasinya adalah dengan gerakan kebersihan, kelompok-kelompok usrah, riyadhah keagamaan, ceramah, tabligh, serta pengembangan kontrol sosial.

3.   Pendekatan Ta’lim Al-Kitab
            Mengajarkan Al-kitab (Al-Qur’an) dengan menjelaskan hukum halal dan haram. Pendekatan ini bertujuan untuk membaca, memahami, dan merenungkan Al-Qur’an dan As-sunnah sebagai keterangannya. Pendekatan ini bukan hanya memahami fakta, tetapi juga makna dibalik fakta, sehingga dapat menafsirkan informasi secara kreatif dan produktif. Indikatornya adalah pembelajaran membaca Al-Qur’an, diskusi tentang Al-Qur’an di bawah bimbingan para ahli, memonitor pengkajian Islam, kelompok diskusi, kegiatan membaca literatur Islam, dan lomba krestivitas Islami.

4. Pendekatan Ta’lim Al-Hikmah
            Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan Ta’lim Al-kitab, hanya saja bobot dan proporsi serta frekuensinya diperluas dan diperbesar. Indikator utama pendekatan ini adalah mengadakan perenungan (reflective thinking), reinovasi, dan interpretasi terhadap pendekatan Ta’lim Al-kitab. Aplikasi pendekatan ini dapat berupa studi banding antar lembaga pendidikan, antar lembaga pengkajian, antar lembaga penelitian, dan sebagainya sehingga terbentuk suatu konsensus umum yang dapat dipedomani oleh masyarakat Islam secara universal dan sebagai pembenahan atas tidak relevannya pendekatan Ta’lim Al-kitab.

5.  Yu’allimukum maa lam Takuunuu Ta’lamuun
            Pendekatan ini mungkin hanya dinikmati oleh Nabi dan Rasul saja, seperti adanya mukjizat, sedangkan manusia seperti kita hanya bisa menikmati sebagian kecil saja. Indikator pendekatan ini adalah penemuan teknologi canggih yang dapat membawa manusia pada penjelajahan ruang angkasa, sedang aplikasinya adalah mengembangkan produk teknologi yang dapat mempermudah dan membantu kehidupan manusia sehari-hari.

6.   Pendekatan Ishlah (Perbaikan)
            Pelepasan beban dan belenggu yang bertujuan memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, memiliki komitmen memihak bagi kaum yang tertindas, dan berupaya menyeimbangkan perbedaan paham. Pendekatan ini bertujuan untuk memelihara ukhuwah islamiyah dengan aplikasinya kunjungan ke kelompok kaum dhu’afa, kampanye amal sholeh, kebiasaan bersedekah, dan proyek-proyek sosial, serta mengembangkan Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah (BAZIS).

C.  DASAR METODE PENDIDIKAN ISLAM
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seorang pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Dasar metode pendidikan Islam itu diantaranya adalah dasar agamis, biologis, psikologis, dan sosiologis.
1.                  Dasar Agamis
Maksudnya bahwa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah berdasarkan pada Agama. Sementara Agama Islam merujuk pada Al Qur’an dan Hadits. Untuk itu, dalam pelaksanannya tersebut hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan dilandasi nilai-nilai Al Qur’an dan Hadits.
Al Qur’an dan Hadits tidak bisa dilepaskan dari pelaksanaan metode pendidikan Islam. Dalam kedudukannya sebagai dasar dan sumber ajaran Islam, maka dengan sendirinya, metode pendidikan Islam harus merujuk pada kedua sumber ajaran tersebut. Sehingga segala penggunaan dan pelaksanaan metode pendidikan Islam tidak menyimpang dari koridor Al Qur’an dan Hadits. Misalnya dalam mata pelajaran olah raga, maka seorang pendidik harus mampu menggunakan metode yang tidak menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan Hadits seperti penggunaan metode demonstrasi dan eksperimen yang tidak memperlihatkan aurat.

2.                  Dasar Biologis
Perkembangan biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin dinamis perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Untuk itu dalam menggunakan metode pendidikan Islam seorang pendidik harus memperhatikan perkembangan biologis peserta didik.
Perkembangan jasmani (biologis) seorang juga mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap dirinya. Seorang yang menderita cacat jasmani akan mempunyai kelemahan dan kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang yang normal, misalnya seorang yang mempunyai kelainan pada matanya (rabun jauh), maka dia cenderung untuk duduk di bangku barisan depan karena dia berada di depan, maka dia tidak dapat bermain-main pada waktu guru memberikan pelajarannya, sehingga dia memperhatikan seluruh materi yang disampaikan guru.

3.                  Dasar Psikologis
Perkembangan dan kondisi psikologis peserta didik akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang dilaksanakan, dalam kondisi yang labil pemberian ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh Karenanya Metode pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara efektif bila didasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis peserta didiknya. Untuk itu seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang tumbuh pada peserta didik. Sebab dalam konsep Islam akal termasuk dalam tataran rohani.
Kondisi rohani yang menjadi dasar dalam metode pendidikan Islam merupakan kekuatan bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Kondisi psikis tersebut meliputi motivasi, emosi, minat, sikap, keinginan, kesedihan, bakat-bakat, dan kecakapan akal (intelektualnya), sehingga seorang pendidik dituntut untuk mengembangkan potensi psikologis yang ada pada peserta didik.

4.                  Dasar Sosiologis
Saat pembelanjaran berlangsung ada interaksi antara peserta didik dengan peserta didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar hal ini maka penggunaan metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan landasan atau dasar ini. Jangan sampai terjadi ada metode yang digunakan tapi tidak sesuai dengan kondisi sosiologis peserta didik, jika hal ini terjadi bukan mustahil tujuan pendidikan akan sulit untuk dicapai.
Interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan peserta didik dan ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik merupakan interaksi timbal balik. Yang kedua belah pihak akan memberikan dampak positif pada keduanya. Dalam kenyataan secara sosiologis seorang individu daapt memberikan pengaruh pada lingkungan sosial masyarakatnya dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, guru atau pendidik dalam berinteraksi dengan peserta didiknya hendaklah memberikan tauladan dalam proses sosialisasi dengan pihak lainnya, seperti dikala hubungan dengan peserta didik, sesama guru, karyawan, dan kepala Sekolah.
Keempat dasar di atas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan Islam agar dalam mencapai tujuan tidak mengunakan metode yang tidak tepat dan tidak cocok kondisi agamis, kondisi biologis, kondisi psikologis, dan kondisi sosiologis peserta didik.

D.                ASAS-ASAS METODE PENDIDIKAN ISLAM
Dr. M. Saleh Muntasir menjelaskan bahwa asas metode pendidikan dalam penyampaian pelajaran adalah menghindarkan ketegangan dan suasana yang menakutkan pada peserta didik dengan menggunakan pelatihan-pelatihan yang intensif, memberikan contoh dan tingkah laku yang baik, partisipasi yang memadai pada peserta didik, serta memandang bahwa segala aktifitas yang dilakukan adalah ibadah, asal berangkatnya dengan bismillah sebagai penghambaan tugas selaku wakil Allah SWT.
Prof. Dr. Mukhtar Yahya merumuskan empat asas umum metode pendidikan Islam:
1.                  At-Tawasu’ fi Al-Maqaashid laa fii Al-Aalah
Prinsip yang mengarahkan agar mempelajari ilmu pengetahuan yang dituju, bukan ilmu yang berfungsi sebagai alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan tersebut. Prinsip ini dilakukan karena adanya suatu asumsi bahwa ilmu pengetahuan diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu ilmu yang digunakan untuk dzatnya sendiri seperti ilmu agama dan ilmu yang berfungsi sebagai alat untuk membantu ilmu-ilmu lain seperti ilmu nahwu dan ilmu sharaf.

2.                  Muraa’at Al-Isti’daad wa Thab’i
Prinsip yang mengindahkan kecenderungan dan perwatakan atau pembawaan peserta didik. Para ahli memandang bahwa peserta didik mempunyai kecenderungan dan pembawaan sejak lahir. Implikasi dalam metode ini adalah bagaimana metode itu diterapkan dengan disesuaikan dan diselaraskan dengan kecenderungan dan pembawaan peserta didik.
Al-Farabi dalam bukunya Asy-Syiasi mengatakan bahwa anak ada kalanya mempunyai bakat jelek, seperti mempunyai kecenderungan jahat dan bodoh, sehingga sulit diharapkan kecerdasan dan kecakapan bagi anak model ini. Demikian juga anak mempunyai pembawaan luhur sehingga mudah dididik.

3.                  At-Tadarruj fi at-Talqin
Maksudnya adalah berangsur-angsur dalam memberikan pendidikan dan pengajaran. Prinsip ini diterapkan berdasarkan asumsi bahwa penerimaan pengetahuan kemampuan menguasai pada tahap awal. Hal ini disebabkan anak mempunyai kekuatan otak yang masih sangat minim, sehingga metode pemberian pengetahuan dan keterampilan secara berangsur-angsur (Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya). Oleh karena itu, Al-Ghazali menyatakan bahwa berilah pelajaran anak didik sesuai dengan kekuatan otaknya.
Aplikasi prinsip ini menurut Ibnu Khaldun dapat dilakukan dengan tiga tahap:
a.         Marhalah Uulaa, pendidik memberika beberapa permasalahan yang menjadi topik pokok suatu bab, lalu menerangkannya secara global dengan memperhatikan kesanggupan otak peserta didik untuk memahaminya.
b.        Marhalah Tsaaniyah, pengulangan mempelajari tiapa-tiap bab dari suatu mata pelajaran dengan keterangan dan penjelasan lebih luas sebagai tangga untuk mempelajari secara mendalam.
c.         Marhalah Tsaalitsah, dipelajari setiap mata pelajaran denga mendalam, sehingga peserta didik dapat menguasai setiap permasalahan dengan sempurna.

4.                  Min Al-Mahsus ila Al-Ma’qul
Prinsip yang diterapkan dan pembahasan yang rasional. Proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan cara memberikan metode yang dimulai dari pelajaran yang dapat ditangkap oleh pancaindra kemudian diteruskan pada pelajaran yang rasional. Dalam hal ini, seorang peserta didik dapat meneliti dan memperhatikan bahan-bahan yang dapat ditangkap dengan pancaindra kemudian diolah dengan pelatihan olah pikir, sehingga mendapatkan pemahamana yang rasioanal.
Untuk merealisasikan prinsip ini, Al-‘Abdari dalam bukunya Al-Madkhal mengemukakan langkah-langkah praktis dalam operasionalisasinya, yaitu sebagai berikut:
a.         Pendidik memulai dengan masalah pertama dari suatu pelajaran dengan menguraikan isi buku yang akan diajarkan sehingga peserta didik memahaminya.
b.        Memaparkan pendapat ulama-ulama yang diketahui dalam masalah tersebut. Apabila dalam pendapat tersebut terjadi pertentangan, pendidik dapat menerangkan pendapatnya denga dasar hukum dan alasan pendapat masing-masing.
c.         Kemudian pendidik kembali pada pendapatnya, sehingga pendapat lain dapat diterangkan dengan sanggahan-sanggahan yang kemudian akan diterima atau ditolak oleh peserta didik.
d.        Setelah itu, bandingkanlah masalah tersebut dengan masalah-masalah serupa, berbeda, atau mendekatinya.
e.         Kemudian cabangkan permasalahan yang dipelajari sebagai penerapannya.
f.         Untuk menyelesaikan penerapan ini, pendidik dapat memberikan kebebasan pada pesrta didik untuk bertanya jawab serta mengemukakan keberatan-keberatan yang kemudian dijawab dan dijelaskan oleh pendidik.
Prof. Dr. Omar Muhammad At-Toumy Asy-Syaibani menyatakan bahwa seorang pendidik perlu memperhatikan tujuh prinsip pokok metode pendidikan Islam.
1)        Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat peserta didiknya.
2)        Mengetahui tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan sebelum pelaksanaan pendidikan.
3)        Mengetahui tahap kematangan, perkembangan, serta perubahan peserta didik.
4)        Mengetahui perbedaan-perbedaan individu di dalam diri peserta didik.
5)        Memperhatikan kepahaman, dan mengetahui hubungan-hubungan, integrasi pengalaman dan kelanjutannya, keaslian, pembaruan dan kebebasan berfikir.
6)        Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi peserta didik
7)        Menegakkan uswatun hasanah.

E.                 MACAM-MACAM METODE PENDIDIKAN ISLAM
1.                  Metode Ceramah
Metode ceramah adalah penerangan atau penuturan secara lisan oleh guru kepada sejumlah siswa yang biasanya berlangsung di dalam sebuah kelas. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dilaksanakan di luar kelas. Dalam metode ini, guru merupakan pihak yang aktif sementara murid cenderung pasif.
2.                  Metode tanya jawab
Metode tanya jawab ialah menyampaikan pelajaran dengan jalan guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. Hal ini dimaksudkan untuk mengenal pengetahuan, fakta tertentu yang sudah diajarkan dan untuk merangsang perhatian murid dengan berbagai cara. Komunikasi dalam metode ini bersifat terbatas, hanya terjadi pada dua individu guru dan siswa, dan jika terdapat kesalahan dalam menjawab dapat diajukan kepada yang lain secara bergiliran.

3.                  Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian/penyampaian bahan pembelajaran dimana pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membicarakan dan menganalisis secara ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas suatu masalah.

4.                  Metode Latihan Siap
Metode ini disebut juga metode drill yaitu suatu metode dengan jalan melatih anak didik atau siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan, dengan cara berulang-ulang. Banyak pelajaran dalam bidang studi agama yang perlu dikuasai secara praktis, sehingga memerlukan latihan secara teratur, misalnya pelajaran bahasa Arab, membaca Al-Qur’an dan latihan shalat.

5.                  Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Metode demonstrasi adalah suatu metode dimana seorang guru diminta atau murid sendiri memperlihatkan atau memperagakan pada seluruh kelas tentang suatu proses atau suatu kaifiyah melakukan sesuatu. Misalnya cara berwudhu, shalat jenazah dan sebagainya. Sedangkan metode eksperimen adalah metode dimana guru dan murid sama-sama mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari apa yang diketahui seperti eksperimen mengajar al-Qur’an dengan metode tertentu, eksperimen tentang tanah atau debu yang bisa dipakai bertayamum dan sebagainya. Metode ini dapat dirangkaikan penggunaannya atau juga secara terpisah.

6.                  Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
Metode pemberian tugas (resitasi) ini sering juga disebut metode pekerjaan rumah, yaitu metode dimana siswa diberi tugas khusus diluar jam pelajaran. Dalam pelaksanaannya metode ini siswa dapat mengerjakan tugasnya di rumah atau di luar rumah seperti diperpustakaan, laboratorium, masjid dan sebagainya, untuk dapat dipertanggungjawabkan kepada guru. Misalnya tugas untuk mencatat hasil ceramah ramadhan, khutbah jum’at dan sebaginya.

7.                  Metode Karya Wisata
Metode karya wisata adalah metode mengajar dengan membawa siswa meninggalkan sekolah menuju suatu objek untuk mempelajari sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran sesuai kurikulum yang berlaku. Metode ini sering juga disebut studi wisata (study tour) dalam perjalanan karya wisata ada hal-hal tertentu yang sudah dipersiapkan oleh guru untuk didemonstrasikan atau ditunjukkan kepada siswa, disamping ada hal yang kebetulan ditemukan dalam perjalanan wisata tersebut. Misalnya pengenalan terhadap penciptaan Allah tentang alam semesta.

8.                  Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok adalah metode mengajar dengan membagi siswa dalam kelompok untuk mempelajari bahan pelajaran yang sama dengan cara bekerja sama antara yang satu dengan yang lain dan saling percaya menpercayai. Penggunaan metode kelompok dalam belajar disamping dapat meningkatkan persaudaraan, terutama sesama saudara seagama, juga akan menigkatkan efesiensi dan efektifitas proses belajar.



9.                  Metode Sosiodrama dan Bermain Peran
Kedua metode ini sulit untukipisahkan satu dengan yang lain. Dalam penggunaannya, selain dapat dipergunakan secara silih berganti juga dapat dirangkaikan menjadi satu kesatuan. Sosiodrama berarti mendramakan atau memerankan cara tingkah laku di dalam hubungan sosial. Sedangkan bermain peran lebih menekankan pada kenyataan dimana para siswa diikutsertakan dalam memainkan peranan didalam mendramakan masalah-masalah hubungan sosial. Kedua metode ini kadang-kadang disenut dramatisasi. Metode ini dapat dipergunakan terutama pada bidang studi akhlak dan sejarah islam.
Beberapa metode diatas, merupakan metode yang umum digunakan baik dalam pengajaran agama Islam maupun dalam mengajarkan pengajaran umum. Dan tentunya setiap metode yang telah dikemukakan diatas, disamping memiliki kelebihan tentu juga memiliki kekurangan atau kelemahan. Pada setiap metode tentunya seorang guru dituntut untuk dapat mengatasi kelemahan-kelemahan itu dan sekaligus untuk mewujudkan efisiensi dan efektifitas dalam menggunakan metode.
Di samping metode yang telah di uraikan diatas, terdapat pula metode pembinaan rasa beragama. Menurut Abdurrahman an-Nahlawi mengemukakan beberapa metode untuk menananmkan rasa iman, yakni sebagai berikut:
1.                  Metode Hiwar Qur’ani dan Nabawi
Hiwar adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan dengan sengaja diarahkan kepada suatu tujuan. Hiwar qur’ani merupakan dialog yang diambil dari dialog antara Allah dengan hamba-Nya. Dimana Allah memanggil hamba-Nya. Sedangkan hiwar Nabawi adalah hiwar yang dipergunakan oleh Nabi dalam mendidik sahabat-sahabatnya. Yang mana beliau menghendaki agar sahabatnya mengajukan pertanyaan. Dari sini kita dpat mengetahui bahwa guru harus mendorong muridnya untuk bertanya.

2.                  Metode Qisah Qur’ani dan Nabawi
Dalam pendidikan Islam metode kisah sangat penting. Qisah Qur’ani bukan hanya merupakan kisah atau karya seni yang indah, akan tetapi merupakan suatu cara Tuhan mendidik umat-Nya untuk beriman kepada-Nya. Kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain dari bahasa. Hal ini disebabkan kisah Qurani dan Nabawi memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya mempunyai efek psikologis dan edukatif yang sempurna, rapi, dan jauh jangkauannya seiring dengan perjalanan zaman.

3.                  Metode Amtsal (perumpamaan)
Pendidikan dengan perumpamaan dilakukan dengan menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang kebaikan dan keburukannya telah diketahui secara umum, seperti menyerupakan orang-orang musyrik yang dijadikan pelindung selain Allah dengan laba-laba yang membuat rumahnya (QS. Al-Ankabut [29]: 41)

4.                  Metode Keteladanan
Keteladanan merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan karena secara psikologis manusia memang membutuhkan tokoh teladan dalam hidupnya. Dalam pendidikan, siswa sering kali menjadikan guru sebagai teladan. Oleh karena itu guru harus menjadi suri tauladan yang baik bagi siswanya. Keteladanan itu ada dua macam yaitu: keteladanan yang disengaja, yaitu keteladanan yang memang disertai perintah atau penjelasan agar meneladaninya dan keteladanan yang tidak disengaja yaitu keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat keikhlasan dan sejenisnya.



5.                  Metode Latihan dan Pengalaman
Salah satu metode yang digunakan oleh Rasulullah saw. dalam mendidik para sahabatnya adaalh dengan latihan, yaitu memberikan kesempatan kepada para sahabat untuk mempraktikan cara-cara melakukan ibadah secara berulang kali. Metode seperti ini diperlukan oleh pendidik untuk memberikan pemahaman dan membentuk keterampilan peserta didik.

                                                 
6.                  Metode Ibrah dan Mau’izah
Pendidikan dengan ibrah dilakukan oleh pendidik dengan mengajak peserta didik mengetahui inti sari suatu perkara yang disaksikan, diperhatikan, diinduksi, ditimbang-timbang, diukur, dan diputuskan oleh manusi secara nalar, sehingga kesimpulannya dapat mempengaruhi hati. Misalnya peserta didik diajak untuk merenungi kisah Nabi Yusuf yang dianiaya oleh saudara-saudaranya dan mengambil pelajaran dari kisah tersebut.
Pendidikan dengan mau’idzah adalah pemberian nasihat dan peringatan akan kebaikan dan kebenaran dengan cara menyentuh qalbu dan menggugah untuk mengamalkannya. Mau’idzah dapat berbentuk nasihat dan tazkir (peringatan).

7.                  Metode Tarhib dan Targhib
Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan, sedangkan tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Targhib bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Tarhib demikian juga, akan tetapi, tekanan targhib yaitu agar seseorang melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi kejahatan.



BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Metode atau metoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu metha dan hodos. Metha berarti melalui atau melewati dan hodos berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab, dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran yang mudah, efektif dan dapat dicerna dengan baik.
            Pendekatan yang dipakai dalam metode pendidikan islam seperti yang dikemukakan oleh Jalaludin Rahmat dan Zainal Abidin Ahmad antara lain: Pendekatan Tilawah, penedekatan Tazkiyah, pendekatan Ta’lim Al-Kitab, pendekatan Ta’lim Al-Hikmah, pendekatan Yuallimukum maa lam takuunuu ta’lamun; dan pendekatan Ishlah. Dasar-dasar metode pendidikan islam antara lain: dasar agamis, dasar biologis, dasar psikologis, dan dasar sosiologis
Asas-asas metode pendidikan islam yaitu at-tawasu’ fi al-maqaashid laa fii al-aalah, muraa’at al-isti’daad wa thab’i, at-tadarruj fi at-talqin, dan min al-mahsus ila al-ma’qul.
Metode pendidikan Islam yaitu metode ceramah, tanya jawab, diskusi, latihan siap, demonstrasi dan eksperimen, pemberian tugas dan resitasi, karya wisata, kerja kelompok, sosiodrama dan bermain peran, selain metode tersebut, terdapat pula metode pembinaan rasa beragama. menurut abdurrahman an-nahlawi mengemukakan beberapa metode untuk menananmkan rasa iman, yakni metode hiwar (percakapan) qur’ani dan nabawi, metode qisah qur’ani dan nabawi, metode amtsal (perumpamaan) qur’ani dan nabawi, metode keteladanan, metode pembiasaan, metode ‘ibrah dan mau’izah,  dan metode targhib dan tarhib.


DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, Heris. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Ilmiah.

Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Rada, Soleha. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Shiddiq Press.

Umar, Bukhari. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Amzah.

http://anwarmyla.blogspot.co.id/2013/10/ilmu-pendidikan-islam-metode-dalam.html. (Online, Kamis 29 Oktober 2015, 14:27)

https://afniafandi.wordpress.com/2013/10/09/metode-dalam-pendidikan-islam/. (Online, Kamis 29 Oktober 2015, 14:27)

Comments

Populer

Cara Menyusun Rumusan Indikator Dan Tujuan Pembelajaran

Pengertian, Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

Pengertian, Prinsip-prinsip dan Manfaat Metodologi Pembelajaran PAI